Senin, 23 Maret 2020

Algoritma Euclied dan KPK

Soal dan Jawaban Algoritma Euclied dan KPK
1.      Terapkan Algoritma Euclid untuk memperoleh
Jawab :
2.      Hitunglah PPB dari 1492 dan 1066.
Jawab:
Terapkan algoritma Euclides seperti dijelaskan sebelumnya dengan mengambil a = 1492 dan b = 1066, yaitu
1492 = 1 . 1066 + 426
1066 = 2 . 426 + 214
426   = 1 . 214 + 212
214   = 1 . 212 + 2
212   = 106 . 2 + 0
Sisa taknol yang terakhir adalah 2 sehingga d = gcd(1492; 1066) = 2.
3.      Tentukan dengan menggunakan metode irisan himpunan!
Jawab:
Misalkan himpunan-himpunan kelipatan positif dari 40 dan 12 berturut-turut adalah K40 dan K12.
Himpunan kelipatan persekutuannya adalah
Karena bilangan terkecil dari adalah 120, maka adalah 120.
4.      Buktikan bahwa jika ( a, b ) = 1 dan a bc , maka a c.
Bukti :
( a, b ) = 1 terdapat m dan n sedemikian sehingga 1 = ma + nb.
a bc terdapat k sedemikian sehingga bc = ak.
Diperoleh 1 = ma + nb
c . 1 = mac + nbc
c = mac + nak
c = a ( mc + nk ) a c
5.      Misalkan  , maka harus ditunjukkan bahwa  ,   dengan
Jawab:
Terlihat bahwa
Maka ,
,
, 
6.      Jika  maka  tentukan
Jawab:
7.      Menggunakan sifat berapa
Jawab :
8.      Buktikan berlaku
Jawab :
Misalkan
kelipatan persekutuan positif dari a dan b.
Misalkan c kelipatan persekutuan positif lain dari
Dengan demikian
9.      Hitunglah hasil kali KPK dan PPB dari  dan
Jawab:
10.  Tentukan KPK dari 2520 dan 10530 dengan cara faktorisasi prima
Jawab :

Rabu, 14 Maret 2018

SOAL MATRIKULASI PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH


Soal Ujian Matrikulasi
1.      Jelaskan apa saja problematika pembelajaran matematika sekolah dan bagaimana solusi?
Kegiatan pembelajaran matematika di sekolah
Ada beberapa problematika yang menghambat jalannya proses pembelajaran matematika, diantaranya yaitu
a.       Kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum 2013 karena minimnya pelatihan dan pendistribuasian bahan ajar yang belum merata.
b.      Sulitnya mengubah mindset siswa dan guru yang sudah terlanjur melekat. Seperti kebiasaan guru yang selalu menjelaskan rumus. Siswa yang selalu menerima materi dengan mudah karena telah dirangkumkan oleh guru.
c.       Siswa kurang bisa beradaptasi dengan pembelajaran matematika yang menggunakan kurikulum 2013 karena rumus atau mereka bisa mereka dapatkan dengan cara mereka sendiri.
d.      guru kesulitan mengelola kelas karena kegiatan belajar dilakukan secara kelompok sehingga banyak siswa yang justru membuat kegaduhan.
e.       Dalam kurikulum 2013, untuk mendapatkan materi atau suatu simpulan membutuhkan waktu  yang tidak sedikit.
f.       Pembelajaran menjadi monoton dan membosankan karena materi yang dibahas dalam satu hari hanya tema itu saja yang dibahas.
g.      Kurikulum 2013 membutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung. Seperti adanya laboratorium, media pembelajaran dan alat peraga. Sebagai contoh, di dalam buku pedoman dijelaskan bahwa untuk mengajarkan materi mengenalkan bilangan asli sampai dengan 500 menggunakan blok Dienes. Namun, tidak semua sekolah mempunyai media pembelajaran tersebut.
h.      Selain itu, banyak pula terjadi missconcept yang sudah menjadi kebiasaan. Seperti penyebutan kata yang seharusnya “negatif” namun menjadi “minus”
Dari berbagai problematika yang terjadi tersebut ada beberapa alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir problematika tersebut sehingga kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan baik. Beberapa solusi tersebut diantaranya:
a.       Guru harus meningkatkan keterampilan mengajar antara lain keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan bertanya, keterampilan mengadakan variasi.
http://icrixs.wordpress.com/education/keterampilan-mengajar-guru/
b.      Aktivitas siswa seperti aktivias bertanya, membaca, menulis, melakukan percobaan, mengemukakan pendapat, bekerja sama dengan kelompok harus ditingkatkan. Aktivitas siswa dapat ditingkatkan oleh guru dengan melakukan perbaikan pembelajaran secara berkala.
http://www.slideshare.net/rikinenengfadilah/aktivitas-belajar-siswa
c.       Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan harus menyediakan fasilitas yang menunjang pembelajaran. Seperti mengadakan pelatihan/diklat, membuat kurikulum yang bisa disesuaikan dengan kondisi siswa.
http://eprints.uny.ac.id/9416/1/bab%201%20-NIM%2007110241016.pdf
d.      Pembelajaran harus dibuat menarik seperti menggunakan berbagai model pembelajan, teori pembelajaran, serta pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan matematika.
http://luluksofijati.weebly.com/uploads/1/3/5/2/13527370/pembelajaran_matematika_yang_menarik.pdf
e.       Agar siswa tidak mengalami missconcept, buku ajar yang dibuat pemerintah harus mencakup cara mengajarkan konsep suatu materi yang berlandaskan teori belajar secara jelas.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/MODEL_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA/BBM3_(Dra._Erna_Suwangsih,_M.Pd..pdf
  1. Apa saja isu-isu problematika pembelajaran matematika sekolah yang akan dihadapi dan bagaimana alternatif penyelesaiannya?
Isu-isu problematika pembelajaran matematika yang akan nantinya dikhawatirkan akan terjadi diantaranya
a.       Siswa hanya bisa memahami suatu konsep secara teoritis namun tidak bisa mengaplikasikannya. Sebagai contoh, operasi hitung campuran misal -3 – (-8). Secara teoritis siswa memahami materi tersebut, namun mereka tidak tahu apa manfaat mempelajarinya. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap pembangunan karakter siswa.
b.      Jika pembelajaran terus-menerus digambarkan sulit dan rumit. Dapat dipastikan siswa akan semakin ketakutan dengan mata pelajaran tersebut dan siswa akan merasa malas belajar. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap upaya memperbaiki generasi penerus bangsa.
          Dari berbagai isu problematika pembelajaran matematika yang dikhawatirkan akan terjadi, ada beberapa alternatif solusi yang dapat digunakan untuk meminimalisirkan kemumingkan tersebut. Alternatif solusi tersebut antara lain:
a.       Pembentukan karakter siswa sebagai tujuan utama pembelajaran adalah tanggung jawab semua  pihak. Pemerintah harus menfasilitasi dan mengendalikan mutu pelajaran dengan cara menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi siswa, menyediakan materi ajar yang sesuai dengan tingkatan kelas atau umur, menyedikan tempat belajar yang kondusif serta selalu melakukan pengawasan berkala.
b.      Pembelajaran harus dibuat menarik dan bermakna dengan melakukan pembelajaran yang menggunakan berbagai model, pendekatan, teori, dan strategi pembelajaran.
http://luluksofijati.weebly.com/uploads/1/3/5/2/13527370/pembelajaran_matematika_yang_menarik.pdf



Minggu, 09 Juli 2017

Permainan Teka-Teki Kelas 2 SD

Permainan ini merupakan salah satu jenis permainan teka-teki silang. Hanya saja,anak-anak tidak perlu memikirkan huruf apa yang diperlukan untuk melengkapi isiannya. Anak-anak cukup mencoret atau melingkari jawaban yang dimaksud.
Permainan ini lebih ditujukan untuk permainan kelompok mengingat banyaknya pertanyaan dan bentuk permainan yang lumayan sulit. Untuk mempermudah penyelesain,setiap kelompok harus membagi tugas. Ada yang menjawab pertanyaan dan ada yang menandai jawaban ke dalam lembar yang disediakan.
Permainan Teka-Teki Untuk Kelas 2 SD
Selamat Mencoba :)

Realistic Mathematic Education (RME) atau Pendidikan Matematika Realistik (PMR)

Kata “realistic” merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda selama kurag lebih 35 tahun. Pendekatan ini mengacu pada pendapat Freudenthal (dalam Hamidah, 2007:8) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Gravemeijer (dalam Sembiring, 2010:44) juga menambahkan bahwa kata “realistic” merujuk pada kegiatan nyata sehari-hari. Sehingga RME dapat dikatakan sebagai pengajaran matematika yang berdasarkan pada masalah praktis yang ada dalam kehidupan nyata sehahi-hari. Menurut Freudenthal (dalam Wijaya, 2012:20), kebermaknaan makna matematika merupakan konsep utama dari RME. Proses belajar siswa hanya akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi siswa. Pendekatan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan RME ini diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1971. 

Pendekatan RME mengenal adanya istilah matematisasi yaitu suatu proses untuk mematematikakan suatu fenomena dan bisa juga diartikan membangun suatu konsep matematika dari suatu fenomena (Wijaya, 2012:41-42). Treffers (dalam Fauzan, 2002:38) menjelaskan bahwa tahap formalisasi termasuk pemodelan, simbolisasi, skematisasi dan mendefinisikan dan generalisasi adalah langkah-langkah untuk memahami dalam akal pikiran. Dengan menyelesaikan masalah kontekstual dalam pendekatan realistic siswa akan belajar untuk menyelesaikan masalah kontekstual secara matematis. Proses inilah yang disebut matematisasi. Treffers (dalam Van den Heuvel, 1996:11) membagi proses matematisasi menjadi dua, yaitu
1. Matematisasi Horisontal
                 Matematisasi horisontal dapat diartikan sebagai pemodelan situasi berdasarkan pengalaman nyata ke dalam matematika (Yenni dan Andre, 2003:5).
Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi dapat dicapai melalui kegiatan seperti: (1) identifikasi matematika dalam suatu konteks umum; (2) skematisasi; (3) formulasi dan visualisasi masalah dalam berbagai cara; (4) pencarian keteraturan dan hubungan; (5) transfer masalah nyata ke dalam model matematika.
2. Matematisasi Vertikal.
        Matematisasi vertikal dapat diartikan sebagai proses untuk mencapai tingkat yang abstraksi yang lebih tinggi dalam matematika (Yenni dan Andre, 2003:5). Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi vertikal terjadi melalui serangkaian kegiatan seperti: (1) representasi dari suatu relasi ke dalam suatu rumus atau aturan; (2) pembuktian keteraturan; (3) penyesuaian dan pengembangan model matematika; (4) penggunaan model matematika yang bervariasi; (5) pengombinasian dan pengintegrasian model matematika; (6) perumusan suatu konsep matematika baru; (7) generalisasi