Kumpulan latihan soal kelas V SDN Kedungpring tahun 2019-2020
Soal Tema 8
Soal Tema 8 Paket 1
Soal Tema 9 Subtema 1 Paket 1
Soal Tema 9 Subtema 2 Paket 1
Soal Tema 9 Subtema 3 Paket 1
Soal Matematika Pengolahan Data Paket 1
Soal Tema 9 Paket 1
Soal Aksara Jawa Paket 1
Soal Budaya Banyumasan Paket 1
Simulasi Soal PAT Tema 6
selamat mengerjakan....
Rabu, 01 April 2020
Senin, 23 Maret 2020
Algoritma Euclied dan KPK
Soal dan Jawaban Algoritma Euclied dan KPK
1. Terapkan
Algoritma Euclid untuk memperoleh 
Jawab :

2. Hitunglah
PPB dari 1492 dan 1066.
Jawab:
Terapkan
algoritma Euclides seperti dijelaskan sebelumnya dengan mengambil a = 1492 dan
b = 1066, yaitu
1492 = 1 . 1066 + 426
1066 = 2 . 426 + 214
426 = 1 . 214 +
212
214 = 1 . 212 + 2
212 = 106 . 2 + 0
Sisa taknol yang terakhir adalah 2 sehingga
d = gcd(1492; 1066) = 2.
3. Tentukan
dengan menggunakan metode irisan himpunan!
Jawab:
Misalkan
himpunan-himpunan kelipatan positif dari 40 dan 12 berturut-turut adalah K40
dan K12.
Himpunan
kelipatan persekutuannya adalah
Karena
bilangan terkecil dari
adalah 120, maka
adalah 120.
4.
Buktikan
bahwa jika ( a, b )
= 1 dan a ⏐bc ,
maka a ⏐ c.
Bukti :
( a, b
) = 1 ⇒ terdapat m dan n sedemikian
sehingga 1 = ma + nb.
a ⏐ bc ⇒ terdapat k sedemikian sehingga bc =
ak.
Diperoleh 1
= ma + nb
c . 1 = mac + nbc
c = mac + nak
c =
a ( mc + nk
) ⇔ a ⏐ c
5. Misalkan
, maka harus ditunjukkan bahwa
,
dengan 
Jawab:
Terlihat bahwa 
Maka
,
6. Jika
maka
tentukan 
Jawab:
7.
Menggunakan sifat
berapa 
Jawab :
8. Buktikan
berlaku 
Jawab :
Misalkan 
Misalkan c kelipatan persekutuan positif lain dari

Dengan demikian 
9. Hitunglah
hasil kali KPK dan PPB dari
dan 
Jawab:
10. Tentukan KPK dari 2520 dan 10530
dengan cara faktorisasi prima
Jawab :
Rabu, 14 Maret 2018
SOAL MATRIKULASI PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH
Soal
Ujian Matrikulasi
1.
Jelaskan apa saja problematika
pembelajaran matematika sekolah dan bagaimana solusi?
Kegiatan pembelajaran matematika di sekolah
Ada beberapa problematika yang menghambat jalannya proses
pembelajaran matematika, diantaranya yaitu
a.
Kurangnya pemahaman guru terhadap
kurikulum 2013 karena minimnya pelatihan dan pendistribuasian bahan ajar yang
belum merata.
b.
Sulitnya mengubah mindset siswa
dan guru yang sudah terlanjur melekat. Seperti kebiasaan guru yang selalu
menjelaskan rumus. Siswa yang selalu menerima materi dengan mudah karena telah
dirangkumkan oleh guru.
c.
Siswa kurang bisa beradaptasi
dengan pembelajaran matematika yang menggunakan kurikulum 2013 karena rumus
atau mereka bisa mereka dapatkan dengan cara mereka sendiri.
d.
guru kesulitan mengelola kelas
karena kegiatan belajar dilakukan secara kelompok sehingga banyak siswa yang
justru membuat kegaduhan.
e.
Dalam kurikulum 2013, untuk
mendapatkan materi atau suatu simpulan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
f.
Pembelajaran menjadi monoton dan
membosankan karena materi yang dibahas dalam satu hari hanya tema itu saja yang
dibahas.
g.
Kurikulum 2013 membutuhkan sarana
dan prasarana yang mendukung. Seperti adanya laboratorium, media pembelajaran
dan alat peraga. Sebagai contoh, di dalam buku pedoman dijelaskan bahwa untuk
mengajarkan materi mengenalkan bilangan asli sampai dengan 500 menggunakan blok
Dienes. Namun, tidak semua sekolah mempunyai media pembelajaran tersebut.
h.
Selain itu, banyak pula terjadi
missconcept yang sudah menjadi kebiasaan. Seperti penyebutan kata yang
seharusnya “negatif” namun menjadi “minus”
Dari berbagai problematika yang terjadi tersebut ada
beberapa alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk meminimalisir problematika
tersebut sehingga kegiatan pembelajaran bisa berjalan dengan baik. Beberapa
solusi tersebut diantaranya:
a.
Guru harus meningkatkan
keterampilan mengajar antara lain keterampilan membuka dan menutup pelajaran,
keterampilan mengelola kelas, keterampilan bertanya, keterampilan mengadakan
variasi.
http://icrixs.wordpress.com/education/keterampilan-mengajar-guru/
b.
Aktivitas siswa seperti aktivias
bertanya, membaca, menulis, melakukan percobaan, mengemukakan pendapat, bekerja
sama dengan kelompok harus ditingkatkan. Aktivitas siswa dapat ditingkatkan
oleh guru dengan melakukan perbaikan pembelajaran secara berkala.
http://www.slideshare.net/rikinenengfadilah/aktivitas-belajar-siswa
c.
Pemerintah sebagai penyelenggara
pendidikan harus menyediakan fasilitas yang menunjang pembelajaran. Seperti
mengadakan pelatihan/diklat, membuat kurikulum yang bisa disesuaikan dengan
kondisi siswa.
http://eprints.uny.ac.id/9416/1/bab%201%20-NIM%2007110241016.pdf
d.
Pembelajaran harus dibuat menarik
seperti menggunakan berbagai model pembelajan, teori pembelajaran, serta pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan matematika.
http://luluksofijati.weebly.com/uploads/1/3/5/2/13527370/pembelajaran_matematika_yang_menarik.pdf
e.
Agar siswa tidak mengalami
missconcept, buku ajar yang dibuat pemerintah harus mencakup cara mengajarkan
konsep suatu materi yang berlandaskan teori belajar secara jelas.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/MODEL_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA/BBM3_(Dra._Erna_Suwangsih,_M.Pd..pdf
- Apa saja isu-isu problematika pembelajaran matematika sekolah yang
akan dihadapi dan bagaimana alternatif penyelesaiannya?
Isu-isu problematika pembelajaran matematika yang akan nantinya
dikhawatirkan akan terjadi diantaranya
a.
Siswa hanya bisa memahami suatu
konsep secara teoritis namun tidak bisa mengaplikasikannya. Sebagai contoh,
operasi hitung campuran misal -3 – (-8). Secara teoritis siswa memahami materi
tersebut, namun mereka tidak tahu apa manfaat mempelajarinya. Hal ini tentu
akan berpengaruh terhadap pembangunan karakter siswa.
b.
Jika pembelajaran terus-menerus digambarkan
sulit dan rumit. Dapat dipastikan siswa akan semakin ketakutan dengan mata
pelajaran tersebut dan siswa akan merasa malas belajar. Hal tersebut akan
sangat berpengaruh terhadap upaya memperbaiki generasi penerus bangsa.
Dari
berbagai isu problematika pembelajaran matematika yang dikhawatirkan akan
terjadi, ada beberapa alternatif solusi yang dapat digunakan untuk
meminimalisirkan kemumingkan tersebut. Alternatif solusi tersebut antara lain:
a.
Pembentukan karakter siswa sebagai
tujuan utama pembelajaran adalah tanggung jawab semua pihak. Pemerintah harus menfasilitasi dan
mengendalikan mutu pelajaran dengan cara menyusun kurikulum yang disesuaikan
dengan kondisi siswa, menyediakan materi ajar yang sesuai dengan tingkatan
kelas atau umur, menyedikan tempat belajar yang kondusif serta selalu melakukan
pengawasan berkala.
b.
Pembelajaran harus dibuat menarik
dan bermakna dengan melakukan pembelajaran yang menggunakan berbagai model,
pendekatan, teori, dan strategi pembelajaran.
http://luluksofijati.weebly.com/uploads/1/3/5/2/13527370/pembelajaran_matematika_yang_menarik.pdf
Minggu, 09 Juli 2017
Permainan Teka-Teki Kelas 2 SD
Permainan ini merupakan salah satu jenis permainan teka-teki silang. Hanya saja,anak-anak tidak perlu memikirkan huruf apa yang diperlukan untuk melengkapi isiannya. Anak-anak cukup mencoret atau melingkari jawaban yang dimaksud.
Permainan ini lebih ditujukan untuk permainan kelompok mengingat banyaknya pertanyaan dan bentuk permainan yang lumayan sulit. Untuk mempermudah penyelesain,setiap kelompok harus membagi tugas. Ada yang menjawab pertanyaan dan ada yang menandai jawaban ke dalam lembar yang disediakan.
Permainan Teka-Teki Untuk Kelas 2 SD
Selamat Mencoba :)
Permainan ini lebih ditujukan untuk permainan kelompok mengingat banyaknya pertanyaan dan bentuk permainan yang lumayan sulit. Untuk mempermudah penyelesain,setiap kelompok harus membagi tugas. Ada yang menjawab pertanyaan dan ada yang menandai jawaban ke dalam lembar yang disediakan.
Permainan Teka-Teki Untuk Kelas 2 SD
Selamat Mencoba :)
Realistic Mathematic Education (RME) atau Pendidikan Matematika Realistik (PMR)
Kata “realistic”
merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di
Belanda selama kurag lebih 35 tahun. Pendekatan ini mengacu pada pendapat
Freudenthal (dalam Hamidah, 2007:8) yang mengatakan bahwa matematika harus
dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia.
Gravemeijer (dalam Sembiring, 2010:44) juga menambahkan bahwa kata “realistic”
merujuk pada kegiatan nyata sehari-hari. Sehingga RME dapat dikatakan sebagai
pengajaran matematika yang berdasarkan pada masalah praktis yang ada dalam
kehidupan nyata sehahi-hari. Menurut Freudenthal (dalam Wijaya, 2012:20),
kebermaknaan makna matematika merupakan konsep utama dari RME. Proses belajar
siswa hanya akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi siswa.
Pendekatan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan RME ini diperkenalkan
oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1971.
Pendekatan RME mengenal adanya istilah matematisasi yaitu suatu proses
untuk mematematikakan suatu fenomena dan bisa juga diartikan membangun suatu
konsep matematika dari suatu fenomena (Wijaya, 2012:41-42). Treffers (dalam
Fauzan, 2002:38) menjelaskan bahwa tahap formalisasi termasuk pemodelan,
simbolisasi, skematisasi dan mendefinisikan dan generalisasi adalah
langkah-langkah untuk memahami dalam akal pikiran. Dengan menyelesaikan masalah
kontekstual dalam pendekatan realistic siswa akan belajar untuk menyelesaikan
masalah kontekstual secara matematis. Proses inilah yang disebut matematisasi.
Treffers (dalam Van den Heuvel, 1996:11) membagi proses matematisasi menjadi
dua, yaitu
1. Matematisasi Horisontal
Matematisasi
horisontal dapat diartikan sebagai pemodelan situasi berdasarkan pengalaman
nyata ke dalam matematika (Yenni dan Andre, 2003:5).
Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi dapat dicapai melalui
kegiatan seperti: (1) identifikasi matematika dalam suatu konteks umum; (2)
skematisasi; (3) formulasi dan visualisasi masalah dalam berbagai cara; (4)
pencarian keteraturan dan hubungan; (5) transfer masalah nyata ke dalam model
matematika.
2. Matematisasi Vertikal.
Matematisasi vertikal dapat diartikan sebagai proses untuk
mencapai tingkat yang abstraksi yang lebih tinggi dalam matematika (Yenni dan
Andre, 2003:5). Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi vertikal terjadi
melalui serangkaian kegiatan seperti: (1) representasi dari suatu relasi ke
dalam suatu rumus atau aturan; (2) pembuktian keteraturan; (3) penyesuaian dan
pengembangan model matematika; (4) penggunaan model matematika yang bervariasi;
(5) pengombinasian dan pengintegrasian model matematika; (6) perumusan suatu
konsep matematika baru; (7) generalisasi
Langganan:
Postingan (Atom)
-
MAKALAH PENTINGNYA BELAJAR FILSAFAT ILMU BAGI SEORANG MAHASISWA Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu ...
-
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU MAKALAH Untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah : ...