Minggu, 09 Juli 2017

Realistic Mathematic Education (RME) atau Pendidikan Matematika Realistik (PMR)

Kata “realistic” merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda selama kurag lebih 35 tahun. Pendekatan ini mengacu pada pendapat Freudenthal (dalam Hamidah, 2007:8) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Gravemeijer (dalam Sembiring, 2010:44) juga menambahkan bahwa kata “realistic” merujuk pada kegiatan nyata sehari-hari. Sehingga RME dapat dikatakan sebagai pengajaran matematika yang berdasarkan pada masalah praktis yang ada dalam kehidupan nyata sehahi-hari. Menurut Freudenthal (dalam Wijaya, 2012:20), kebermaknaan makna matematika merupakan konsep utama dari RME. Proses belajar siswa hanya akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi siswa. Pendekatan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan RME ini diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1971. 

Pendekatan RME mengenal adanya istilah matematisasi yaitu suatu proses untuk mematematikakan suatu fenomena dan bisa juga diartikan membangun suatu konsep matematika dari suatu fenomena (Wijaya, 2012:41-42). Treffers (dalam Fauzan, 2002:38) menjelaskan bahwa tahap formalisasi termasuk pemodelan, simbolisasi, skematisasi dan mendefinisikan dan generalisasi adalah langkah-langkah untuk memahami dalam akal pikiran. Dengan menyelesaikan masalah kontekstual dalam pendekatan realistic siswa akan belajar untuk menyelesaikan masalah kontekstual secara matematis. Proses inilah yang disebut matematisasi. Treffers (dalam Van den Heuvel, 1996:11) membagi proses matematisasi menjadi dua, yaitu
1. Matematisasi Horisontal
                 Matematisasi horisontal dapat diartikan sebagai pemodelan situasi berdasarkan pengalaman nyata ke dalam matematika (Yenni dan Andre, 2003:5).
Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi dapat dicapai melalui kegiatan seperti: (1) identifikasi matematika dalam suatu konteks umum; (2) skematisasi; (3) formulasi dan visualisasi masalah dalam berbagai cara; (4) pencarian keteraturan dan hubungan; (5) transfer masalah nyata ke dalam model matematika.
2. Matematisasi Vertikal.
        Matematisasi vertikal dapat diartikan sebagai proses untuk mencapai tingkat yang abstraksi yang lebih tinggi dalam matematika (Yenni dan Andre, 2003:5). Menurut Wijaya (2012:43), proses matematisasi vertikal terjadi melalui serangkaian kegiatan seperti: (1) representasi dari suatu relasi ke dalam suatu rumus atau aturan; (2) pembuktian keteraturan; (3) penyesuaian dan pengembangan model matematika; (4) penggunaan model matematika yang bervariasi; (5) pengombinasian dan pengintegrasian model matematika; (6) perumusan suatu konsep matematika baru; (7) generalisasi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar