Kamis, 26 Mei 2011

jenis-jenis masalah di SD

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap murid khususnya di Sekolah Dasar memiliki perbedaan antara satu dan lainnya, di samping persamaannya. Perbedaan menyangkut : kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, persepsi, sikap, kemampuan, minat, latar belakang kehidupan dalam keluarga, dll. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri maupun oranglain. Sikap dan perilaku anak-anak yang menyimpang karena adanya suatu masalah dapat juga mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu fase masa puber dan sebagai akibatnya, anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan.

Masalah-masalah tersebut tidak selalu dapat diselesaikan dalam situasi belajar mengajar di kelas, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh guru di luar situasi proses pembelajaran. Peran dan fungsi serta tanggung jawab guru di Sd, selain mengajar juga perlu memperhatikan keragaman karakteristik perilaku murid sebagai dasar penentuan jenis bantuan dan layanan dalam bimbingan belajar, baik secara individual maupun kelompok.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah jenis-jenis masalah di sekolah dasar ?

2. Bagaimana cara mengatasi masalah di sekolah dasar ?

C. Tujuan

1. Mengetahui jenis-jenis masalah di sekolah dasar.

2. Mengetahui cara mengatasi masalah di sekolah dasar.

BAB II

PEMBAHASAN

Masalah merupakan sesuatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri maupun oranglain. Sikap dan perilaku anak-anak yang menyimpang karena adanya suatu masalah dapat juga mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya yaitu fase masa puber dan sebagai akibatnya, anak akan mengalami gangguan dalam menjalani kehidupan. Beberapa masalah yang dialami oleh anak Sekolah Dasar:

1. Masalah emosi

Usia anak Sekolah Dasar merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa puber atau masa remaja. Pada tahap peralihan ini emosi anak cenderung naik turun, anak belum dapat mengendalikan emosinya karena belum sampai pada tahap kematangan emosi. Covey (2005) mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, yang diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan akan individu lain. Sedangkan pada masa anak-anak, pemikirannya masih bersifat konkret, belum dapat membedakan baik dan buruk serta belum dapat mempertimbangkan perasaan dan keyakinan oranglain. Semakin berkembang usia individu, maka diharapkan akan semakin mampu melilhat segala sesuatunya secara objektif, mampu membedakan perasaan dan kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta daripada perasaan.

Contoh masalah emosi yang sering terjadi pada anak Sekolah Dasar antara lain: gelisah, aktivitas berlebihan, tidak matang, takut, mudah marah, mudah tersinggung, dan murung.

2. Masalah penyesuaian diri

Salah satu tugtas seorang anak Sekolah dasar adalah berhubungan dengan penyesuaian sosial,karena pada usia sekolah dasar anak mulai belajar menyesuaika diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri yang dibtuhkan oleh anak sekolah Dasar antara lain : kebutuhan untuk berteman , bersosialisasi, bertegur sapa bergabung dan hidup bersama dengan orang lain, bekerjasama dan bercakap-cakap dengan orang lain, serta untuk mendapatkan afeksi dari orang lain.

Untuk itulah maka sekolah harus ikut membantu tgas-tugas perkembangan anak tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan dalam penyesuaian diri. Melalui penyediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pembinaan bakat dan minat baik lewat kegiatan kurikuler maupun kokurikuler di sekolah, diharapkan dapat mencegah dan mengatasi kesalahan pergaulan tersebut.

3. Masalah perilaku seksual

Pada masa sekolah dasar anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis, mulai bersifat romantis yang diikui oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari lawan jenis. Seharusnya mereka mencari atau memperoleh informasi seksual yang benar, ooleh karen aitu dibutuhkan pendidikan seksual secara dini di sekolah dasar. Yang perlu dipahami sebagai orang tua atau pendidik adalah pendidikan seksualitas tidak pernah mengajarkan anak tentang bagaimana cara melakukan hubungan seks, ataupun hal-hal lainnya yang terkesan vulgar dan menjijikan.

Seksualitas itu sendiri membicarakan tentang totalitas ekspresi kita sebagai laki-laki atau perempuan, apa yang kita percayai, kita pikirkan dan kita rasakan tentang diri kita, bagaimana kita bereaksi terhadap lingkungan, bagaimana kita menampilkan diri kita, bagaimana kita berbudaya dan bersosial, etika dan adab pergaulan, yang kesemuanya tersebut akan mencirikan identitas kita. Pendidikan seksualitas bagi anak akan menjadikannya mengerti benar hal-hal yang berkenaan dengan dirinya, tubuhnya, fungsi dari bagian-bagian tubuhnya, serta bagaimana menjaga diri dari hal-hal yang tidak diperkenankan. Pendidikan seksualitas juga berguna dalam mempersiapkan anak memasuki masa pubernya, agar saatnya nanti anak tidak lagi kaget, bingung, malu, dan cemas dalam menghadapi berbagai perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik dan jiwa mereka.
Dengan diberikannya pendidikan seksualitas pada anak, seorang laki-laki diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi laki-laki seutuhnya, begitu pula dengan anak perempuan, diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi seorang perempuan seutuhnya. Selain itu, diharapkan anak akan lebih mudah untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh lingkungan yang tidak baik.

Manfaat yang bisa dipetik dari pendidikan seksualitas pada anak antara lain :

· Mengerti dan memahami dengan peran jenis kelaminnya

Dengan diberikannya pendidikan seksualitas pada anak, seorang anak laki-laki diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi laki-laki seutuhnya, begitu pula dengan anak perempuan, diharapkan tumbuh dan berkembang menjadi seorang perempuan seutuhnya. Sehingga tidak ada lagi yang merasa tidak nyaman dengan peran jenis kelamin yang dimilikinya.

· Menerima setiap perubahan fisik yang dialami dengan wajar dan apa adanya

Masa kanak-kanak adalah masa dimana seorang manusia sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis. Terutama saat mereka mulai memasuki masa pubertas, dimana perubahan fisik dan psikis mengalami tahap paling cepat dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya. Dengan diberikannya pendidikan seksualitas menjadikan anak-anak mengerti dan paham tentang bagaimana mereka menyikapi perubahan-perubahan tersebut, sehingga mereka tidak akan merasa asing, kaget, bingung, dan takut saat menghadapinya.

· Menghapus rasa ingin tahu yang tidak sehat

Sebaiknya, orang-orang terdekat seperti orang tua dan guru bisa menjadi sosok yang menyenangkan bagi anak untuk bisa memenuhi rasa ingin tahunya yang menggebu tentang banyak hal termasuk tentang seksualitas. Ini dimaksudkan agar anak tidak memutuskan untuk mencari tahu jawaban akan pertanyaan-pertanyaannya melalui teman, komik, VCD, ataupun media lainnya yang tidak menjamin anak mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya.

· Memperkuat rasa percaya diri dan bertanggung jawab pada dirinya

Percaya diri akan timbul jika seorang anak sudah merasa nyaman dengan dirinya. Anak akan merasa nyaman pada dirinya jika telah mengetahui setiap bagian dari dirinya juga fungsi dari bagian-bagian tersebut. Sehingga, anak akan mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Pada akhirnya, anak akan mulai belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

· Mengerti dan memahami betapa besarnya kuasa Sang Pencipta

Pemahaman tentang bagian-bagian dan fungsi-fungsi yang ada pada tubuhnya akan membuat anak semakin mengerti dan memahami betapa luar biasanya ciptaan Tuhan YME.

4. Masalah perilaku sosial

Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada anak-anak dapat dilihat dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras,agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku sosial se[erti ini, maka dapat melahirkan geng-geng atau kelompok-kelompok yang pembentukkannya berdasarkan atas kesamaan latar belakang agama,suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan kelompok atau geng pada anak tersebut dapat memicu terjadinya permusuhan antar kelompok atau geng. Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah tersebut diatas, sekolah dapat menyelenggarakan kegiaan-kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak memperhatikan latar belakang suku,agama,ras dan sosial ekonomi. Sekolah harus memperlakukan siswa secara sama, tuidak membeda-bedakan sisswa yang satu dengan yang lain.

5. Masalah moral

Masalah moral yang terjadi pada anak sekolah dasar ditandai oleh adanya ketidakmampuan anak membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang sala dapat membawa masalah bagi kehidupan anak pada khususnya, dan semua orang pada umumnya. Masalah-masalah moral seperti bicara porno, sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan.

Untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalh yang emikian, maka sekolah sebaiknya mnyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan guna meningkatkan pendidikan budi pekerti.

6. Masalah keluarga

Sering ditemukan berbagai permasalahn anak yang penyebab utamanya adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dengan orang tua. Sebab-sebab umum pertentangan keluarga masa anak-anak adalah : standar perilaku, metode disiplin, dan hubungan dengan saudara kandung.

7. Masalah belajar

Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.

Dari pengertian masalah belajar di atas maka jenis-jenis masalah belajar si Sekolah Dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami.

· Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.

· Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untukmemenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.

· Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memilki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.\

· Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.

· Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya tau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.

· Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilanggan sebagian besar kegiatan belajarnya.

Pada garis besarnya faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:

Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain:

1. Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.

2. Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.

3. Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.

4. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, sperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dansering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari:

1. Sekolah, antara lain:

Ø Sifat kurikulu yang kurang fleksibel

Ø Terlalu berat beban belajar (murid) dan untuk mengajar (guru)

Ø Metode mengajar yang kurang memadai

Ø Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.

2. Keluarga (rumah), antara lain:

ü Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis

ü Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya

ü Keadaan ekonomi.

Tujuan bimbingan belajar antara lain :

1. Pengembangan sikap dan kebiasaan yang baik, terutama dalam mengerjakan tugas dalam ketrampilan serta dalam bersikap terhadap guru.

2. Menumbuhkan disiplin belajar dan terlatih, baik secara mandiri atau kelompok.

3. Mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya di lingkungan sekolah atau alam sekitar untuk pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan pengembangan pribadi.

Jadi sebenarnya masalah ada di dunia ini adalah memiliki tujuan fungsi tersendiri untuk kehidupan manusia, yaitu untuk menjaga kehidupan agar tetap aktif dan berpikir kreatif agar dapat melangkah maju menuju ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hanya tergantung bagaimana manusia tersebut menyikapi setiap masalah yang datang. Setiap kejadian ataupun peristiwa jika disikapi dengan cara yang berbeda maka akan menghasilkan respon atau tindakan yang berbeda dan dengan adanya respon atau tindakan yang berbeda maka akan menhasilkan hasil yang berbeda pula.

Langkah – langkah yang sebaiknya dilakukan untuk menyikapi masalah yang datang dalam kehidupan, antara lain:

a. Kenalilah secara jelas apa yang sebenarnya menjadi masalah anda, kebanyakan orang tidak mengenali secara jelas apa masalah yang dialaminya dan bahkan parahnya lagi banyak yang mencoba mencari kambing hitam atas masalah yang dihadapinya, hal tersebut sunggulah sangat tidak tepat. Ingat tanpa mengenali masalah yang jelas maka mustahil rasanya untuk dapat menemukan solusi dari permasalahan yang ada, bagaikan seorang dokter yang ingin memberikan resep untuk pasiennya tanpa tahu apa sebenarnya penyakit yang diderita pasien tersebut maka tak akan sesuai dan bergunalah resep yang akan diberikannya.

  1. Milikilah keyakinan diri yang tinggi. Siapakah yang Selayaknya pertama kali harus paling menyakini dan mempercayai atas kemampuan diri anda?! Tentulah harus dimulai dari diri anda sendiri. Janganlah berharap orang lain yakin dengan kemampuan yang anda miliki jika diri anda sendiri tidak yakin dengan kemampuan yang anda miliki. Ingatlah, besar kecilnya diri anda akan akan sangat bergantung dari besar kecilnya keyakinan dan kepercayaan diri yang anda miliki. Selalulah yakin pada kemampuan anda untuk dapat menyelesaikan setiap masalah yang datang menghapiri anda. Keyakinan diri yang tinggi akan memberikan anda energy yang lebih ketika anda menghadapi setiap masalah yang dihadapi.
  2. Berfokuslah pada solusi dari sebuah permasalahan, jangan hanya terpaku diam pada permasalahan yang ada tanpa memikirkan pemecahannya. Kebanyakan orang yang ada, ketika dihapakan pada suatu masalah, hanyalah diam, mengeluh-eluhkan masalah yang dihadapinya hingga mengalami ketakutan sendiri dan menunggu nasib menghakiminya. Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan kekuatan berpikir kreatif yang luar biasa besarnya, jika kita hanya berkutat dengan masalah yang ada hal itu justru akan menutup kreatifitas otak kita untuk berfikir kreatif dan berkembang. Maka sebaiknya, bersikaplah tenang dan berfokuslah anda dalam mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada.
  3. Ambilah hikmah dari setiap masalah yang datang. Setelah masalah yang menimpa anda berakhir maka hal yang harus anda lakukan adalah berusaha mencoba mensyukuri atas apa yang menjadi masalah anda. Ingatkan kepada diri anda secara terus menerus bahwa setiap masalah yang ada pastilah akan membawa hikmah yang mengarahkan kita kepada perbaikan diri. Setelah masalah itu berakhir pastilah ada kemudahan yang akan anda peroleh.

BAB II

PENUTUP

A. Simpulan

Jenis-jenis masalah di sekolah dasar antara lain masalah emosi, masalah penyesuain diri, masalah perilaku seksual, masalah perilaku sosial, masalah moral, masalah keluarga dan masalah belajar.

Cara mengatasi masalah di sekolah dasar antara lain kenalilah secara jelas apa yang sebenarnya menjadi masalah anda, milikilah keyakinan diri yang tinggi, berfokuslah pada solusi dari sebuah permasalahan, ambilah hikmah dari setiap masalah yang datang

B. Saran

Kita sebagai guru SD hendaknya memiliki kemampuan untuk memahami karakteristik anak didik sebagai dasar upaya untuk meminimalisir terjadinya masalah yang timbul di masa sekolah dasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar