Jumat, 27 Mei 2011

materi,media,metode,model,pendekatan dan evaluasi pembelajaran seni rupa di SD

PERENCANAAN PEMBELAJARAN SENI RUPA DI SD

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Seni Rupa

Dosen Pengampu : Ibu Masitah

Disusun oleh :

Wahyu Priyandono 1401409053

Anita Yuniarti N 1401409077

Vida Safira 1401409122

Yuli Purwati 1401409188

Eka Fatmahwati 1401409197

Rombel 06

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S1

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2010
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai sarana pendidikan, pendidikan kesenian di SD dicurahkan untuk bermain, maka kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam pelajaran kesenian. Dalam kegiatan bermai inilah bentuk ekspresi kreatif anak dapat ditumbuhkembangkan. Secara garis besar pendidikan seni rupa di SD berperan untuk menumbuhkan daya apresiasi, kreatifitas, kognisi serta mengembangkan kemampuan berpikir. Bagi peserta didik yang berbakat, pendidikan kesenian juga dapat membentuk keterampilan vokasional. Dengan demikian pendidikan kesenian merupakan pendidikan ekspresi kreatif yang dapat mengembangkan kepekaan apresiasi, estetik dan membentuk kepribadian manusia seutuhnya. Untuk dapat melaksanakan pendidikan seni rupa di SD sesuai peranannya, mahasiswa sebagai calon guru harus memahami materi, media, model, metode, pendekatan dan evaluasi pembelajaran seni rupa di SD.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja materi dan media seni rupa untuk siswa SD?

2. Bagaimana Metode, Model dan Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa di SD?

3. Bagaimana Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa di SD?

C. Tujuan

1. Mengetahui materi dan media seni rupa untuk siswa SD

2. Mengetahui Metode, Model dan Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa di SD

3. Mengetahui Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa di SD


BAB II

PEMBAHASAN

A. Materi dan Media Seni Rupa

1. Menggambar / Melukis

Kegiatan menggambar / melukis di SD dapat diterapkan dalam berbagai cara dari mulai pembuatan sket, pengembangan sket menjadikan karya lukis / gambar, menggambar dengan skema, memindahkan gambar dengan bantuan kisi-kisi dan menggambar ekspresi dengan cara memberikan gambar kepada siswa bagaimana seorang maestro (seniman) menggarapkannya mereka dari awal hingga akhir.

Bahan untuk diantaranya seperti kertas gambar, karton manila, kertas plikator, kertas merang, karton dan sebagainya. Untuk bahan pewarna dapat digunakan cat air, cat minyak, cat poster, sumbo kue atau kalau tidak ada bisa menggunakan tumbuh-tumbuhan seperti kunyit, buah tinta, daun jati dan sebagainya. Teknik pembuatannya dapat dilakukan dengan teknik pulasan, teknik kerik, teknik duser dan sebagainya.

2. Membentuk

Membentuk dapat dimaksudkan sebagai mengubah, membangun dan mewujudkan. Umumnya bahan yang dipergunakan untuk kegiatan membentuk adalah bahan-bahan lunak seperti tanah liat, plastisin, malam lilin, playdog dan sejenisnya.

Teknik membentuk sangat beragam, diantaranya :

Membutsir Yaitu membuat hanya tiga dimensi dari bahan yang lunak dengan cara diremas-remas dengan tangan pada saat tanah masih dalam keadaan lembek.

Memahat Yaitu membentuk dengan jalan membuang bahan yang tidak dipergunakan.

Cor(menuang) Proses menuang menggunakan bahan cair yang dituangkan pada alat acuan yang berbentuk cetakan, setelah menjadi keras dikeluarkan dari acuan/cetakan.

3. Menempel

Yaitu karya seni berupa tempelan gambar atau bahan tertentu pada sebuah benda agar lebih menarik untuk dilihat. Alat dan bahan yang digunakan dapat berupa kendi, lem, gunting, pensil, kertas warna, monte, kain perca atau bahan lain. Teknik Pembuatannya yaitu dengan menempelkan guntingan kertas, kain perca atau monte ke kendi yang telah digambari.

4. Mencetak

Mencetak adalah proses memperbanyak (reproduksi) suatu gambar atau naskah dengan teknik tertentu. Bahan-bahan yang digunakan adalah cat air, sumbo kue, tinta bak serta lainya. Bahan acuan cetakan dapat menggunakan berbagai bahan seperti kentang, wortel, ketela rambat, bengkoang, karet bekas sandal, karton tebal, triplek dan sebagainya. Teknik mencetak ada bermacam-macam diantaranya adalah cetak timbul, cetak cekung, cetak tembus, dan cetak datar.

5. Menggunting, melipat, menempel (3M)

Karya seni rupa ini merupakan proses memanipulasi lembaran kertas menjadi suatu bentuk dua atau tiga dimensi. Bahan yang digunakan untuk dapat pembuatan karya ini berupa kertas, kertas lipat, lembaran plastik. Alat yang digunakan yaitu gunting dan lem atau perekat. Teknik yang digunakan yaitu melipat atau origami.

6. Dekorasi

Kegiatan dekorasi biasanya ditujukan untuk membuat hiasan. Bahan untuk dekorasi dapat menggunakan bahan-bahan seperti biji-bijian, bunga, batang tumbuh-tumbuhan, bauh-buahan, kertas berwarna, plastik sedotan, pita plastik, karet balon dan dll.

Alat-alat yang digunakan untuk jenis dekorasi bahan kertas adalah gunting, cutter, lem, pisau, cutter, gunting, jarum, benang, paku, palu, lem dan sebagainya.

Di dalam membuat dekorasi atau dinamen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menstilir dan menyederhanakan.

7. Merakit dan Membangun

Yaitu kegiatan yang mencakup aktivitas menyusun berbagai komponen untuk dijadikan sesuatu benda tiga dimensi atau trimatra. Contoh: membuat kalender.

Bahan yang digunakan seperti kertas tebal/karton, lem, pensil berwarna / cat air. Alat-alat yang bisa digunakan antara lain gunting, penggaris, cutter, kuas. Prosedur membangun bisa dilakukan dengan cara melipat, memotong, dan mengelem. Pada bagian tertentu bisa diberi pewarna atau garis-garis.

8. Menjiplak

Menjiplak yaitu kegiatan menempelkan sehelai kertas pada model cetakan kemudian menggosoknya dengan krayon atau alat tulis lain. Bahan yang digunakan bisa bermacam-macam, seperti koin, model topeng, atau berbagai objek yang dapat ditemui di sekitar. Bahan penggosoknya dapat berupa pensil, pensil warna, atau krayon. Teknik pembuatannya yaitu dengan cara menggosok-gosokkan krayon atau pensil di atas sehelai kertas yang diletakkan di atas model sehingga membentuk jiplakan dari model tersebut.

9. Kolase

Kolase adalah penyusunan berbagai macam bahan pada sehelai kertas yang diatur. Bahan yang digunakan biasanya adalah kertas , kain, atau bahan yang bertekstur. Teknik pembuatannya yaitu dengan cara menempelkan berbagai potongan bahan-bahan tersebut pada kertas dan diatur sedemikian rupa sesuai keinginan mereka.

10. Finger Painting (Lukisan Jari)

Yaitu seni melukis dengan menggunakan jari sebagai alat untuk melukis. Pada prinsipnya proses finger painting adalah bebas, yang terpenting adalah bahwa lukisan tersebut dibuat dengan menggunakan jari-jari tangan. Jadi sebenarnya karya ini juga bebas, beraliran abstrak, realistis, naturalis,dan sebagainya. Bahan yang dipakai dapat berupa berbagai jenis cat, kertas, atau berbagai bahan lukisan lain. Teknik pembuatannya adalah pada dasarnya menggunakan jari untuk menggambar. Semua gambar digambar dengan jari-jari tangan.

11. Lukis Tempel/gambar tekstur

Yaitu karya seni berupa gambar yang dibuat dengan teknik menggambar dan menempel baik dengan kertas maupun bahan lain pada gambar sehingga tercipta suatu pola gambar yang indah dan lebih hidup. Alat dan bahan seperti pelepah batang pisang kering, dedaunan, kertas, atau bahan lain yang bisa ditempel, gunting, lem, berbagai jenis kertas, pensil,dll.

Teknik Pembuatan yaitu pertama-tama membuat gambar yang akan ditempeli. Kemudian gunting bahan-bahan lain yang akan ditempel sesuai dengan pola gambar. Setelah itu tempelkan pada gambar tadi sehingga terbentuk lukisan seperti semula.

12. Merangkai/memasang

Yaitu jenis karya seni yang dibuat dengan merangkai atau memasang suatu bahan pada media tertentu. Contoh : membuat puzzle. Alat dan bahan yang digunakan yaitu karton tebal, pensil, kertas HVS, pensil warna, penggaris, gunting, lem,dll. Teknik Pembuatannya dengan membuat sebuah gambar pada kertas HVS, beri warna, kemudian tempelkan pada karton tebal. Gambar garis potong pada gambar, kemudian potong-potong sesuai garis dan beri bingkai pada gambar.

13. Menghias

Yaitu jenis karya seni yang dibuat dengan merangkai atau memasang, menempel dan menghias suatu bahan pada media tertentu. Contoh : membuat topeng karton. Alat dan bahan yang digunakan seperti karton tebal, pensil, lem, bahan pewarna ( cat air, cat minyak, crayon, pensil warna dsb ), kertas marmer, gunting, dll.

Teknik Pembuatannya yaitu dengan membuat media yang akan dihias misalnya topeng dari karton, kemudian menghiasinya dengan berbagai warna yang menarik serta menempelkan berbagai bahan lain sebagai hiasan pendukung.

14. Mencelup

Yaitu jenis karya seni yang dibuat dengan membuat hiasan pada kain polos dengan menggunakan teknik celup ikat. Contoh : celup kaos dengan jumputan. Alat dan bahan bisa berupa kain putih atau kaos polos warna putih, karet gelang atau tali secukupnya, zat pewarna, kompor, panci, air.

Teknik Pembuatannya dengan mengikat bagian-bagian kaos yang akan dihias. Sebelum dicelupkan ke dalam zat pewarna kaos dimasukkan dulu ke air dingin kemudian diperas. Baru setelah itu celupkan kaos tersebut ke zat pewarna yang telah dididihkan bersama air. Setelah itu dinginkan kain dan cuci. Setelah bersih buka kembali ikatan-ikatan tadi.

15. Meronce

Yaitu jenis karya seni yang dibuat dengan merangkai atau memasang suatu bahan pada benang .Contoh : membuat tirai, membuat kalung. Alat dan bahan misalnya biji karet kering, atau kertas yang digulung kecil, benang nilon, gunting dan pisau, jarum jahit, sedotan limun, dll. Teknik pembuatannya yaitu dengan cara menyusun gulungan kertas atau biji karet kering yang telah di lubangi kedua ujungnya pada benang nilon dengan bantuan jarum.

16. Mencungkil

Yaitu kegiatan yang mencakup aktivitas dengan teknik mencungkil sehingga menghasilkan karya seni yang menarik. Alat dan bahan yang digunakan dapat berupa plastisin, kentang, ketela, atau bahan lain yang bisa dicungkil, pisau atau cutter, lidi, papan. Teknik Pembuatannya dengan cara membuat sketsa pada bahan yang akan dicungkil kemudian cungkil pada bagian yang perlu dibuang dengan pisau.

17. Menganyam

Yaitu kegiatan membuat karya seni dengan teknik menganyam untuk menghasilkan sesuatu yang lebih menarik dari bahan semula. Misalnya membuat anyaman kipas. Alat dan bahan yang digunakan yaitu irisan bambu tipis, 1 bilah bamboo, tali plastic, pisau dan gunting.

Teknik pembuatan :

a. Atur posisi 3 bambu, 1 bambu diletakkan membujur sebagai pita taruhan, 2 pita diletakkan mendatar.

b. Tambahkan 1 pita lagi dan dianyam silang sampai pita habis.

c. Pita taruhan dilipat ke belakang dan disisipkan. Rapikan sisi-sisi kelebihan anyaman yang tidak diperlukan dengan cara digunting.

d. Sisipkan gagang kipas dari bilah bambu dibagian samping.

e. Hasil anyaman disisipkan dan dijepit pada gagang lalu diikat dengan tali.

18. Membatik

Yaitu suatu kegiatan membuat karya seni dengan teknik membatik untuk menghasilkan karya yang indah dilihat. Alat dan bahannya kain polos, pensil atau pensil warna, canting, kertas gambar, lilin malam, pewarna naptol atau wantex, kaporit, air dan wajan kecil, kompor ember.

Teknik Pembuatan:

a. Buat rancangan gambar pada kertas gambar

b. Celupkan kain pada cairan pewarna yang dididihkan

c. Setelah warnanya jadi, keringkan kain

d. Gambar lukisan rancanganmu pada kain dengan pensil warna

e. Cairkan lilin dengan kompor

f. Pelilinan dengan canting

g. Kain yang sudah digambar dengan lilin dicelupkan ke cairan kaporit sehingga warna gelap akan berubah menjadi warna kain asal

h. Buat larutan pewarna lalu celupkan kain kedalamnya.

i. Kain dimasukkan ke air mendidih untuk menghilangkan lilin malam lalu dibilas dengan air bersih

j. Keringkan kain batik.

19. Memilin

Yaitu kegiatan yang mencakup aktivitas dengan teknik memilin sehingga menghasilkan karya seni yang indah.

Membuat Relief

Alat dan bahan: plastisin, plastic, pensil dan kertas, serta penggaris dan papan

Teknik Pembuatan:

a. Ambil plastisin dan ratakan di atas papan

b. Gambar pola pada selembar kertas

c. Gunting pola tersebut dan letakkan pola diatas salah satu plastisin serta potong plastisin sesuai pola yang ada.

d. Tempelkan pola-pola tersebut diatas plastisin lain pada papan

20. Karya kerajinan

Yaitu kegiatan membuat karya seni dengan berbagai teknik agar menghasilkan karya tertentu.

Membuat Asbak

Alat dan bahan: tanah liat, pisau, sendok, alat sudip

Teknik Pembuatan: remas tanah liat dan bentuk sesuai keinginanmu, buanglah bagian yang tidak perlu dengan cara mencungkil, haluskan hasilnya dengan menggunakan alat sudip.

B. Metode, Model dan Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa di SD

METODE PEMBELAJARAN SENI RUPA di SD

1. Strategi Penataan

Strategi penataan berkaitan dengan rancangan menata urutan materi pembelajaran dari yang mudah ke yang sulit, dari konkrit ke abstrak.

2. Strategi penyampaian

Strategi penyampaian berkaitan dengan media pembelajaran atau alat bantu pembelajaran untuk menyampaikan materi yang telah dikemas.

3. Stategi pengelolaan

Strategi pengelolaan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan kelas selama pembelajaran dilaksanakan.

MODEL PEMBELAJARAN SENI RUPA

1. Model Terkait

Model terkait adalah model pembelajaran terpadu yang paling sederhana karena menekankan pada hubungan secara eksplisit tentang konsep atau prinsip,atau pokok bahasan atau ketrampilan atau tugas,atau sikap dalam suatu bidang studi.Pada pembelajaran SR-KT terpadu keterkaitan dalam substansial material seni.Model terkait dalam SR-KT terpadu dapat dimodifikasikan berdasarkan jenis matra substansial seni.Urutan keterkaitan dan besr bobot materi masing-masing substansial materi yang terkait. Keunggulan Model Terkait :

ü Paling sederhana sehingga paling mudah di rancang dan dilaksanakan

ü Terjadi interalisasi karena adanya pengembangan konsep-konsep inti secara terus-menerus

ü Memudahkan proses transfer gagasan-gagasan dalam pemecahan masalah.

ü Siswa lebih mudah dalam mendapatkan gambaran-gambaran mengenai suatu ketrampilan tertentu.

Kelemahan Model Terkait :

§ Model terkait pada intinya adalah mengaitkan antara prinsip,konsep ketrampilan dan tugas atau sikap pada suatu bidang kajian tertentu.Hal ini menyebabkan SR-KT tetap terpisah dan keterpaduan tidak Nampak walaupun hubungan telah dirancang secara eksplisit dalam suatu disiplin mata kajian.

§ Fokus pembelajaran masih bersifat sempit karena usaha-usaha untuk memadukan gagasan-gagasan dalam suatu bidang studi dapat membatasi usaha mengembangkan hubungan yang lebih menyeluruh dengan bidang studi lain.

2. Model Terjala

Merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Model ini menekankan hubungan antara dua atau lebih mata pelajaran melalui tema. Pada pembelajaran senirupa terpadu, model terjala ini dapat memadukan secara intra bidang studi (seni music, tari) dan inter bidang studi (senirupa, music, tari, matematika, ips, ipa dll).

Keunggulan:
a. Melalui pendekatan tematik, pembelajaran terpadu model ini memiliki kekuaatn komprehensif yang tinggi.

b. Membangun motivasi siswa melalui kegiatan pemilihan dan pengembangan tema

c. Meningkatkan kemampuan wawasan guru tentang suatu konsep secara komprehensif
Kelemahan: :
a. Membutuhkan waktu yang lama dalam merancang pembelajaran
b. Ketrampilan seni rupa yang diperoleh siswa kurang optimal
c. Guru memerlukan kemampuan mengevaluasi proses dan produk pembelajaran agar perncanaan dan pelaksanaan pembalajaran dapat tercapai secara optimal

3. Model Terpadu

Model terpadu merupakan pembelahjaran terpadu yang menggunakan tema yang diangkat dari adanya tumpang tindih tentang konsep ketrampilan dan sikap dalam kurikulum yang berlaku dari berbagai mata pelajaran atau mata kajian.

Keunggulan :

a. Mampu membangun motivasi siswa

b. Mampu mengembangkan aspek sikap pada dampak pengiring dalam pembelajaran

c. Menghemat waktu

d. Memiliki kekuatan komprehensif yang tinggi

Kelemahan :
a. Membutuhkan kurikulum yang mengacu pada keterpaduan serta kebijakan-kebijakan pendukung dalam system evaluasi pembelajaran

b. Membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran dalam merancang model pembelajaran terpadu

c. Model terpadu merupakan pembelajaran terpadu yang paling rumit.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN SENI RUPA

Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran Pendidikan Seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif.

Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film. Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni, misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni.

Alternatif pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Seni sebagai berikut. Sekolah yang memiliki lebih dari satu guru bidang seni, masing-masing guru memberikan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya secara terpisah. Siswa memilih salah satu bidang seni sesuai dengan minatnya. Pembelajaan secara terpadu dilaksanakan dengan kerja sama antara guru-guru bidang seni yang bersangkutan. Sekolah yang hanya memiliki guru salah satu bidang seni, guru tersebut melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya, tetapi sedapat mungkin juga melaksanakan pembelajaran seni secara terpadu, sesuai dengan kemampuannya.

Materi pokok yang bersifat teoritik tidak diberikan secara terpisah, tetapi secara integratif dengan materi kegiatan apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Pembelajaran yang bersifat praktek (berkarya) lebih berorientasi pada proses dari pada hasil, sehingga lebih menekankan usaha membentuk dan mengungkapkan gagasan kreatif dari pada kualitas komposisi yang dihasilkan.

Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.

C. Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa

Evaluasi lebih menekankan pada aspek proses pengajaran dengan mengukur adanya berbagai gejala perubahan, termasuk perubahan nilai. Evaluasi adalah langkah yang digunakan untuk mengukur tingkah laku anak selama pembelajaran.
untuk memperoleh data berupa tingkatan kemampuan setelah pembelajaran.

Fungsi evaluasi adalah untuk melihat perkembangan/kemajuan anak dan memberikan dorongan semangat belajar agar hasil selanjutnya dapat lebih baik.

Perlu diingat, dalam pemberian evaluasi, selalu harus diperhitungkan akibat yang mungkin terjadi, terlebih evaluasi terhadap hasil belajar di kelas. Dalam hal ini, nilai yang dihasilkan adalah cermin perubahan tingkah laku anak selama menerima pelajaran di kelas. Dari belum mampu menggambar menjadi mampu menggambar. Dari belum lengkap menjadi lebih lengkap. Dari bentuk-bentuk global berkembang menuju ke detail. Dari belum tepat memberi alasan, kemudian mampu mengurai maksud dari gambar/karya yang dibuat. Begitupun perkembangan penguasaan teknik, alat, bahan, serta kemampuan kreatif untuk mengolah ide.

Biasanya ada hal yang kurang disadari oleh para guru, bahwa penilaian sama dengan vonis hakim terhadap yang diwujudkan dalam nilai sebagai putusan yang tak bisa ditawar. Terlebih bagi para orang tua yang belum memahami hakekat nilai atau penilaian; akan mudah berpendapat, bahwa nilai jelek dari guru adalah searti dengan : anak saya tidak berbakat, tidak mampu menggambar, atau menggambar hanya untuk anak yang berbakat. Akan lebih parah, apabila guru juga berpandangan seperti itu.

Oleh karena itu, memberi nilai / skor terhadap hasil karya anak, haruslah meilhat situasi dan kondisi anak. Apakah nilai akan membuat anak bangga [reinforcement]. apakah nilai akan membuat anak menjadi merosot minatnya, bahkan membenci kegiatan oleh seni rupa.

Jadi, yang paling diharapkan adalah nilai evaluasi yang mampu menggugah semangat anak untuk terus berkarya. Namun, perlu diingat, bahwa tidak selamanya nilai tinggi yang diberikan akan secara otomatis dapat memberi semangat anak untuk terus berkarya. Alih-alih, justru memberi konotasi keliru terhadap persepsi anak, apabila terlalu mudah mendapat nilai bagus, walau kenyataannya hasil karyanya tidak bagus.

Ada dua bentuk evaluasi, yaitu :

1. Evaluasi Tes

Diperlukan soal dan ketentuan kriteria penilaian.

2. Evaluasi Non-tes

Tidak memerlukan soal, misalnya penilaian terhadap hasil karya lomba gambar atau hasil karya seni rupa yang lain.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah faktor kejiwaan, situasi anak pada waktu berkarya [kadar minat, situasi di rumah yang terbawa di kelas, suasana kelas, dan sebagainya] sebagai faktor indogen yang mempengaruhi keinginan berkarya. Di samping itu, faktor eksternal juga perlu diantisipasi, misalnya campur tangan guru, bahan/materi yang kurang diminati, dan tema yang tidak menggugah minat.

Teknik evaluasi dapat dilakukan lewat seleksi atau teknik ranking yang biasanya digunakan dalam penilaian lomba. Dipilih karya-karya yang dianggap memenuhi persyaratan, lantas dibuat perbandingan, kemudian ditentukan urutan dengan memberi skor/nilai pada setiap karya. Sedangkan teknik penilaian langsung, biasanya berkaitan dengan pelajaran di kelas, yang merupakan umpan balik dari hasil pelajaran yang telah diberikan. Penilaian dapat berupa huruf atau angka.

Untuk memperoleh penilaian yang mendekati sempurna, diperlukan pertimbangan dengan menambahkan penilaian berdasarkan proses berkarya. Penilaian ini, biasa disebut penilaian pendekatan proses. Perlu diketahui, bahwa dilema yang muncul dalam mengevaluasi karya seni adalah adanya sifat subyektif. Maka dengan menambahkan hasil pengamatan dengan perilaku dalam proses berkarya, mengamati situasi kejiwaan, minat dan tipologi anak, akan didapat peluang untuk menilai secara lebih objektif.

Selain itu, terdapat penilaian produk, yang pada prinsipnya penilaian yang mengacu pada hasil karya anak. Penilaian produk didasarkan pada kriteria untuk memperoleh hasil penilaian yang lebih objektif.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : SENI BUDAYA dan KETERAMPILAN

Kelas/Semester : VI/ I

Pertemuan Ke : 2

Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit

A. Standar Kompetensi

1. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa

B. Kompetensi Dasar

1.2 Menjelaskan cara membatik

C. Indikator

· Mengidentifikasi jenis –jenis ragam corak dalam batik.

· Menyebutkan langkah-langkah dalam pembuatan karya seni rupa dalam membatik.

· Merancang pola ragam hias batik di atas bahan kertas gambar, dan kain.

D. Tujuan Pembelajaran

· Melalui gambar dan penjelasan dari guru, siswa dapat mengidentifikasi jenis –jenis ragam corak dalam batik.

· Melalui penjelasan dari guru, siswa dapat menyebutkan langkah-langkah dalam pembuatan karya seni rupa dalam membatik.

· Melalui penjelasan dari guru, siswa dapat merancang pola ragam hias batik di atas bahan kertas gambar dan kain.

E. Metode, Media dan Sumber Belajar

a. Metode

- Informatif

- Demontrasi

- Pengamatan

- Praktikum

b. Media

- kain polos,

- pensil atau pensil warna,

- kertas gambar,

c. Sumber Belajar

a. Buku paket SBK kelas 6

b. Gambar, foto dan model karya seni rupa tiga dimensi

F. Materi Pembelajaran

Mengenal Ragam Hias dan Teknik Batik

G. Langkah-langkah Pembelajaran

a. Pra Kegiatan

~ Pengkondisian kelas

~ Salam

~ Berdoa

~ Presensi

b. Kegiatan Awal

Melakukan pengamatan beberapa gambar, foto atau model beberapa corak batik

c. Kegiatan Inti

Eksplorasi

1) Siswa diminta menyebutkan batik yang mereka ketahui.

2) Guru menunjukkan berbagai gambar batik,

Elaborasi

3) Siswa mengidentifikasi gambar batik yang ditunjukkan oleh guru

4) Guru menjelaskan cara dan langkah-langkah dalam membatik

5) Siswa membuat rancangan pola hias batik pada bahan kain dan kertas gambar.

6) Mewarnai rancangan pola hias batik yang telah dibuat.

Konfirmasi

7) Guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

8) Guru memberikan umpan balik positif berupa dorongan untuk lebih kreatif lagi dalam membuat pola hias batik.

9) Guru bersama siswa merefleksi kegiatan pembelajaran.

d. Kegiatan Akhir

1) Guru merangkum butir-butir penting seluruh pembelajaran dengan menanyakan kepada siswa apa saja yang telah dipelajarinya.

2) Memberikan penghargaan kepada seluruh siswa atas partisipasi aktifnya dalam belajar.

3) Tindak lanjut dan penutup.

H. Penilaian

a. Prosedur Tes

~ Tes awal : tidak ada

~ Tes proses : ada

~ Tes akhir : ada

b. Jenis Tes

~ Tertulis


BAB II

PENUTUP

A Simpulan

Materi dan media seni rupa antara lain :menggambar / melukis, membentuk, menempel, mencetak, menggunting, melipat, menempel (3m), dekorasi, merakit dan membangun, menjiplak, kolase, finger painting (lukisan jari), lukis tempel/gambar teksturmerangkai/memasang, menghias, mencelup, meronce, mencungkil, menganyam, membatik, memilin, karya kerajinan.

Metode pembelajaran seni rupa di sd antara lain strategi penataan, strategi penyampaian, stategi pengelolaan. Model pembelajaran seni rupa di SD antara lain model terkait,model terjala dan model terpadu. Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu.

Evaluasi pebelajaran seni rupa lebih menekankan pada aspek proses pengajaran dengan mengukur adanya berbagai gejala perubahan, termasuk perubahan nilai. Evaluasi adalah langkah yang digunakan untuk mengukur tingkah laku anak selamapembelajaran. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara tes dan non tes.
untuk memperoleh data berupa tingkatan kemampuan setelah pembelajaran.

B Saran

Sebagai calon guru SD, kita di harapkan mampu menyusun RPP Seni Rupa agar pembelajaran Seni Rupa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Disamping itu dalam penyusunan RPP harus memperhatikan materi, media, metode, pendekatan dan evaluasi pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

http://arttangara.multiply.com/journal/item/5/EVALUASI_SENI_RUPA_ANAK_2

http://juliealmathea.wordpress.com/2011/04/09/pembelajaran-seni-rupa-sd/

http://sekilaskamushidupku.blogspot.com/2011/01/20-materi-pendidikakan-kesenian-di.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar